Setiap naik kendaraan umum jurusan Surabaya-Madiun, baik itu dengan bus atau kereta api yang kelas ekonomi, ada saja pedagang asongan yang menawarkan telur puyuh rebus. Biasanya, untuk 3-4 telur puyuh yang telah dibungkus plastik, dihargai seribu perak. Harga telur puyuh sendiri, kalau mentah, sekitar 6000-an untuk 1/4 kg dengan isi sekitar 25-26 biji telur puyuh. Lumayan juga pedagang telur puyuh rebus itu. Pembelinya paling banyak dari kalangan anak-anak. Yang harus diperhatikan ketika membeli telur puyuh rebus di kendaraan atau warung adalah kualitas telurnya. Terkadang, karena tidak laku, telur puyuh rebus yang sudah lama tetap saja dijual. Hal ini tentu merugikan pembeli karena rasa telur puyuhnya sudah tidak enak lagi. Pembeli sering terkecoh dengan penampilan telur puyuh yang tidak menunjukkan keanehan apa-apa. Kejelian dan kewaspadaan pembeli mutlak diperlukan.
Continue reading ‘Sate Telur Puyuh’
Sewaktu kuliah di Bogor, ada beragam makanan khas Sunda yang mulai saya kenal. Juga makanan asli Betawi yang banyak dijual di berbagai warung dan penjual makanan keliling. Ada cireng, yang kata teman saya kependekan dari aci (pati) digoreng. Ketika mengamati penjual cireng samping kampus, memang sangat jelas trlihat kalau makanan cireng hanya sekedar tepung diberi bumbu lalu digoreng. Sudah selesai.
Satu lagi makanan yang dikenalkan teman saya yang asli Sukabumi, cimol. Sampai sekarang, saya tidak tahu kependekan dari cimol. Cara pembuatan cimol tak jauh beda dengan cireng, cuma berbeda sedikit pada bahan yang diperlukan.
Continue reading ‘Cimol’
Sejak kecil sayur bobor menjadi sayur kesukaan saya. Bila makan dengan sayur bobor, apalagi dilengkapi dengan sambel tomat, makan menjadi lahap. Tak perduli makan hanya dengan krupuk atau tempe goreng. Pokoknya enak di lidah. Hingga kini, kegemaran saya pada sayur bobor tak juga berubah. Selain karena rasanya yang khas, sayur bobor juga mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Bahan-bahannya pun mudah didapatkan.
Continue reading ‘Sayur Bobor’